Gunung Kemukus: Dari Mitos Ritual ke Wisata Religi dan Budaya Sragen

Gunung Kemukus

panabelt.com – Gunung Kemukus di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, dikenal luas sebagai kawasan ziarah yang menyimpan sejarah panjang, mitos yang berkembang di masyarakat, dan kini bertransformasi menjadi destinasi wisata religi dan budaya.

Artikel ini mengulas Gunung Kemukus secara menyeluruh , mulai dari sejarah, mitos yang beredar, hingga upaya pemerintah daerah meluruskan narasi dan menata ulang citra kawasan tersebut.

Sekilas tentang Gunung Kemukus

Gunung Kemukus terletak di Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, dengan ketinggian sekitar 300 meter di atas permukaan laut. Kawasan ini berada di tepi Waduk Kedung Ombo dan menjadi lokasi makam Pangeran Samudro, sosok yang menurut cerita masyarakat merupakan putra dari raja terakhir Majapahit, Prabu Brawijaya V, dengan seorang selir.

Makam Pangeran Samudro berada di sebuah bangsal bernama Bangsal Sonyoruri yang bergaya joglo, dan tak jauh dari bangunan tersebut terdapat Sendang Ontrowulan yang biasa digunakan peziarah untuk mandi dan bersuci. Menurut kepercayaan setempat, mata air di sendang ini tidak pernah kering bahkan saat musim kemarau.

Sejarah dan Mitos yang Berkembang

Sejarah dan mitos di Gunung Kemukus telah diteliti secara akademis. Salah satu kajian berjudul “Kematangan Beragama Peziarah di Gunung Kemukus Sragen Jawa Tengah” mengungkap bahwa Pangeran Samudro dipercaya memiliki kesaktian yang diyakini mampu memberikan keberkahan bagi manusia. Mitos inilah yang kemudian dijadikan kepercayaan oleh para peziarah yang berkunjung hingga saat ini.

Selama bertahun-tahun, Gunung Kemukus memang lekat dengan citra kontroversial karena adanya ritual yang dipercaya sebagian peziarah dapat mendatangkan keberuntungan, serta praktik prostitusi yang tumbuh di sekitar kawasan tersebut. Isu ini bahkan masih menjadi sorotan aparat kepolisian setempat dalam beberapa waktu terakhir.

Upaya Pemerintah Daerah Meluruskan Citra dan Sejarah

Dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah Kabupaten Sragen secara aktif berupaya mengubah citra Gunung Kemukus menjadi destinasi wisata religi, budaya, dan ziarah yang lebih positif. Pada Juni 2026, misalnya, Pemkab Sragen memperkenalkan tradisi baru bernama Bancakan Ageng Kemukus, yang digelar dalam rangkaian peringatan 1 Muharram 1448 Hijriah atau 1 Suro 2026, sebagai bagian dari kegiatan bertajuk Kemukus Never Sleep.

Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Bupati Sragen Sigit Pamungkas bersama Wakil Bupati Suroto, jajaran Forkopimda, Sekretaris Daerah, kepala organisasi perangkat daerah, camat, tokoh masyarakat, dan juru kunci. Menurut Bupati Sigit, tradisi ini mengusung tema “Tradisi Baru, Harapan Baru” dan menjadi sarana untuk mengenalkan kembali nilai-nilai budaya luhur warisan leluhur.

Rangkaian acara ini juga diawali dengan tradisi Larap Slambu, yaitu pencucian kain selambu penutup makam Pangeran Samudro. Bancakan sendiri dimaknai sebagai bentuk rasa syukur atas segala nikmat yang diberikan Tuhan, sekaligus mengajarkan nilai gotong royong, kebersamaan, dan kepedulian terhadap sesama, dengan menggunakan wadah tradisional dari anyaman bambu yang disebut encek.

Galeri Kemukus sebagai Pusat Edukasi

Sebagai bagian dari revitalisasi kawasan, Pemkab Sragen juga meresmikan Galeri Kemukus sebagai pusat informasi sejarah dan budaya yang memuat narasi, foto, lukisan, dan benda bersejarah terkait Gunung Kemukus, Pangeran Samudro, dan Nyai Ontrowulan. Keberadaan galeri ini diharapkan dapat meluruskan sejarah dan memberikan informasi yang benar kepada masyarakat maupun wisatawan, sehingga berbagai mitos yang selama ini berkembang dapat diklarifikasi.

Kondisi Terkini: Wisata Religi yang Lebih Tertata

Wajah Gunung Kemukus saat ini disebut jauh berbeda dibanding citra masa lalunya. Berdasarkan liputan terbaru, kawasan ini kini tampak lebih bersih, tertata, dan nyaman bagi peziarah maupun wisatawan umum setelah melalui proses revitalisasi.

Fasilitas penunjang di kawasan ziarah juga semakin lengkap, meliputi area parkir, toilet umum, mushola, kedai makanan, gazebo untuk beristirahat, serta penginapan kecil bagi wisatawan yang ingin bermalam. Selain nilai religi dan sejarah, Gunung Kemukus juga menawarkan bentang alam perbukitan yang cocok dijelajahi dengan bersepeda, terutama saat melintasi jembatan yang membentang di atas Waduk Kedung Ombo.

Untuk menyambut Tahun Baru Islam, kawasan ini secara rutin menggelar ritual Kirab Larap Selambu, selain pagelaran seni dan budaya berupa tari tradisional dan pertunjukan teater.

Kesimpulan

Gunung Kemukus adalah contoh nyata bagaimana sebuah kawasan dengan sejarah dan mitos yang kompleks dapat bertransformasi melalui upaya penataan yang konsisten dari pemerintah daerah. Dari kawasan yang dulu identik dengan kontroversi, kini Gunung Kemukus tengah diarahkan menjadi destinasi wisata religi dan budaya yang lebih tertata, edukatif, dan ramah bagi peziarah maupun wisatawan umum.

Bagi wisatawan yang tertarik mengunjungi Gunung Kemukus, kawasan ini menawarkan lebih dari sekadar ziarah , mulai dari nilai sejarah Pangeran Samudro, keindahan alam di tepi Waduk Kedung Ombo, hingga pengalaman budaya melalui Galeri Kemukus dan berbagai tradisi lokal yang terus dilestarikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *