Jika mendengar nama Sunan Giri, sebagian besar orang tentu langsung teringat pada salah satu tokoh besar dalam jajaran Wali Songo yang memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa.
Namun, di balik nama besar Sunan Giri, terdapat sebuah pusat peradaban yang pernah memiliki pengaruh besar dalam sejarah Nusantara, yaitu Giri Kedaton.
Kini, jejak kejayaan tersebut dapat kembali dirasakan melalui Wisata Giri Kuno (WGK), sebuah kawasan wisata edukasi sejarah yang berada di Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik.
Tempat ini bukan hanya menawarkan pengalaman berwisata, tetapi juga mengajak pengunjung mengenal kembali perjalanan panjang sejarah Islam di Jawa, mulai dari sosok Sunan Giri, berdirinya Giri Kedaton, hingga kehidupan masyarakat pada masa kejayaannya.
Mengenal Sunan Giri, Tokoh Besar di Balik Giri Kedaton
Sebelum menjelajahi Wisata Giri Kuno, penting untuk mengenal sosok yang menjadi bagian utama dari sejarah kawasan ini, yaitu Sunan Giri.
Sunan Giri memiliki nama asli Raden Paku atau dikenal juga dengan nama Muhammad Ainul Yaqin. Beliau merupakan salah satu dari Wali Songo yang berperan besar dalam penyebaran Islam di Nusantara.
Sunan Giri dikenal sebagai ulama yang memiliki kecerdasan tinggi serta kemampuan dalam berbagai bidang, mulai dari agama, pendidikan, pemerintahan, hingga kebudayaan.
Dalam berdakwah, Sunan Giri menggunakan pendekatan yang dekat dengan masyarakat. Beliau memanfaatkan seni dan budaya sebagai media penyampaian nilai-nilai Islam, seperti melalui tembang dan permainan tradisional.
Cara dakwah yang humanis tersebut membuat ajaran yang dibawanya mudah diterima oleh masyarakat luas.
Berdirinya Giri Kedaton
Sejarah Giri Kedaton tidak dapat dipisahkan dari perjalanan Sunan Giri dalam mencari tempat untuk mendirikan pusat pendidikan Islam.
Dalam berbagai kisah sejarah, Sunan Giri mendapatkan petunjuk untuk mencari lokasi yang tepat menggunakan tanah yang dibawa dari Samudera Pasai, salah satu kerajaan Islam awal di Nusantara.
Hingga akhirnya, sebuah kawasan perbukitan di Gresik dianggap menjadi tempat yang sesuai. Kawasan tersebut kemudian dikenal sebagai Bukit Giri.
Di tempat inilah Sunan Giri mendirikan pesantren yang kemudian berkembang menjadi Giri Kedaton.
Giri Kedaton berdiri sekitar tahun 1487 Masehi dan berkembang bukan hanya sebagai pusat pendidikan agama, tetapi juga sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, dan penyebaran kebudayaan Islam.
Dalam catatan sejarah seperti Babad Gresik, Giri Kedaton digambarkan sebagai bangunan megah dengan struktur bertingkat yang menunjukkan besarnya pengaruh Sunan Giri pada masa itu.
Kejayaan Giri Kedaton sebagai Pusat Islam Nusantara
Keistimewaan Giri Kedaton terletak pada luasnya pengaruh yang dimiliki.
Pada masa kejayaannya, Giri Kedaton menjadi salah satu pusat keagamaan yang memiliki pengaruh besar di kawasan timur Nusantara.
Bahkan, sejumlah kerajaan di luar Jawa seperti Maluku, Lombok, Sumbawa, hingga wilayah lainnya disebut memiliki hubungan erat dengan Giri Kedaton dan menjadikan Sunan Giri sebagai tokoh yang dihormati.
Selain sebagai pusat keagamaan, kawasan Giri juga berkembang sebagai pusat perdagangan.
Salah satu bagian penting dalam kehidupan ekonomi masyarakat saat itu adalah Pasar Gede, tempat bertemunya pedagang dari berbagai daerah dengan membawa beragam komoditas.
Kini, suasana tersebut coba dihadirkan kembali melalui replika yang ada di Wisata Giri Kuno.
Menghidupkan Kembali Sejarah Melalui Wisata Giri Kuno
Wisata Giri Kuno hadir sebagai ruang edukasi yang mencoba menghadirkan kembali gambaran kehidupan masyarakat Giri pada masa lalu.
Beberapa bagian sejarah yang direkonstruksi di kawasan ini antara lain:
Replika Giri Kedaton
Bangunan ini menggambarkan pusat pemerintahan dan kehidupan Sunan Giri bersama para pengikutnya.
Melalui replika tersebut, pengunjung dapat membayangkan bagaimana kejayaan Giri Kedaton pada masa lampau.
Replika Pesantren Giri Kedaton
Pesantren menjadi bagian penting dari perjalanan Giri Kedaton.
Dari tempat inilah pendidikan Islam berkembang dan melahirkan banyak tokoh yang kemudian berperan dalam penyebaran Islam di berbagai wilayah.
Replika Pasar Gede
Pasar Gede menggambarkan aktivitas ekonomi masyarakat Giri pada masa lalu.
Kini, semangat perdagangan tersebut dihidupkan kembali melalui keberadaan berbagai produk UMKM lokal yang tersedia di kawasan wisata.
Replika Sumur Gemuling
Sumur Gemuling menjadi salah satu bagian yang menghadirkan gambaran kehidupan masyarakat Giri sehari-hari.
Keberadaannya menunjukkan bahwa sejarah tidak hanya tentang tokoh besar, tetapi juga tentang kehidupan masyarakat biasa.
Replika Telaga Pegat dan Kampung Pedukuhan
Bagian ini menggambarkan hubungan antara manusia, lingkungan, dan kehidupan sosial masyarakat Giri pada masa lalu.
Menjaga Warisan Alam Giri Kedaton
Selain bangunan sejarah, Wisata Giri Kuno juga menghadirkan berbagai tanaman yang memiliki keterkaitan dengan kehidupan masyarakat zaman dahulu.
Beberapa tanaman yang ditanam di kawasan ini antara lain:
- Pohon Pinang, yang sejak lama menjadi bagian dari tradisi masyarakat Jawa.
- Pohon Siwalan (Lontar), yang memiliki banyak manfaat mulai dari buah hingga daunnya.
- Pohon Gebang, tanaman yang berkaitan dengan tradisi kuliner khas Gresik seperti pudak dan kupat.
Kehadiran tanaman tersebut menjadi upaya untuk menghadirkan kembali suasana lingkungan Giri pada masa Sunan Giri.
Menikmati Kuliner Khas Giri
Selain sejarah, pengalaman berkunjung ke Wisata Giri Kuno juga dapat dilengkapi dengan menikmati kuliner khas daerah.
Beberapa makanan dan minuman yang memiliki keterkaitan dengan budaya Giri antara lain:
Es Tape Ketan
Minuman tradisional dengan cita rasa manis dan menyegarkan yang cocok dinikmati setelah berkeliling kawasan wisata.
Kupat Ketek
Kuliner khas Giri yang memiliki nilai sejarah dan biasanya tersedia pada waktu tertentu.
Pudak
Makanan khas Gresik yang menggunakan daun Gebang sebagai pembungkusnya dan menjadi salah satu oleh-oleh populer dari daerah ini.
Wisata Giri Kuno, Sejarah yang Dirawat Bersama
Hal menarik dari Wisata Giri Kuno adalah proses pembangunannya yang melibatkan semangat masyarakat.
Kawasan ini tidak hanya hadir sebagai tempat wisata, tetapi juga menjadi bentuk kepedulian warga dalam menjaga sejarah daerahnya.
Melalui dukungan masyarakat, dana desa, serta peran generasi muda, WGK menjadi contoh bahwa pelestarian sejarah dapat dilakukan secara bersama-sama.
Bahkan, siswa-siswi SMP Muhammadiyah 4 Kebomas turut berkontribusi melalui kegiatan sedekah pohon sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan warisan sejarah.
Mengapa Sejarah Giri Kedaton Penting Dilestarikan?
Sejarah bukan hanya cerita masa lalu, tetapi juga bagian dari identitas sebuah daerah.
Giri Kedaton mengajarkan bahwa sebuah komunitas dapat memiliki pengaruh besar ketika mampu membangun pendidikan, kebudayaan, dan kehidupan sosial yang kuat.
Melalui Wisata Giri Kuno, kisah tersebut tidak hanya tersimpan dalam buku sejarah, tetapi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dan wisatawan.
Penutup
Berkunjung ke Wisata Giri Kuno bukan sekadar melihat replika bangunan bersejarah.
Tempat ini adalah perjalanan untuk mengenal kembali jejak kejayaan Islam di Jawa, memahami perjuangan Sunan Giri, serta menghargai warisan budaya yang masih dijaga hingga saat ini.
Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, WGK menjadi pengingat bahwa sejarah tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat.
Karena setiap daerah memiliki cerita, dan cerita tentang Giri Kedaton adalah salah satu warisan yang layak untuk terus dikenang.









