Dalam mempelajari ilmu sejarah, ada satu konsep dasar yang sering muncul di buku-buku pelajaran maupun diskusi akademis, yaitu pengertian sejarah sebagai kisah. Konsep ini penting banget dipahami, karena membantu kita membedakan antara peristiwa sejarah yang benar-benar terjadi di masa lalu, dengan cara peristiwa tersebut diceritakan dan disampaikan kepada generasi berikutnya.
Yuk, kita bahas lengkap soal pengertian sejarah sebagai kisah ini, mulai dari definisinya, ciri-ciri utamanya, sampai bagaimana konsep ini berbeda dengan pengertian sejarah dalam makna lainnya.
Empat Makna Sejarah dalam Kajian Ilmu Sejarah
Sebelum membahas lebih dalam soal sejarah sebagai kisah, penting untuk memahami dulu bahwa istilah “sejarah” sebenarnya memiliki empat makna berbeda dalam kajian akademis, yaitu sejarah sebagai peristiwa, sejarah sebagai kisah, sejarah sebagai ilmu, dan sejarah sebagai seni. Keempat makna ini saling berkaitan, namun punya penekanan dan fungsi yang berbeda-beda dalam memahami masa lalu.
Apa Itu Sejarah Sebagai Kisah?
Sejarah sebagai kisah merujuk pada narasi atau cerita yang disusun berdasarkan hasil rekonstruksi peristiwa masa lalu, yang kemudian disampaikan kembali kepada masyarakat, baik dalam bentuk tulisan, lisan, maupun media lainnya. Berbeda dengan sejarah sebagai peristiwa yang merujuk pada kejadian aktual yang benar-benar terjadi di masa lampau dan bersifat objektif serta hanya terjadi satu kali (einmalig), sejarah sebagai kisah merupakan hasil interpretasi dan penyusunan ulang dari peristiwa tersebut oleh sejarawan atau penutur cerita.
Dengan kata lain, sejarah sebagai kisah adalah “hasil olahan” dari peristiwa sejarah yang sesungguhnya, yang sudah melalui proses seleksi, penyusunan, dan interpretasi, sehingga bisa dipahami dan dinikmati oleh pembaca atau pendengarnya.
Kenapa Sejarah Sebagai Kisah Bersifat Subjektif?
Salah satu karakteristik penting dari sejarah sebagai kisah adalah sifatnya yang subjektif, berbeda dengan peristiwa sejarah aslinya yang bersifat objektif karena benar-benar terjadi apa adanya di masa lalu. Subjektivitas ini muncul karena beberapa faktor:
Keterbatasan sumber sejarah. Sejarawan tidak mungkin menyaksikan langsung peristiwa masa lalu, sehingga rekonstruksi kisah sejarah sangat bergantung pada sumber-sumber yang tersedia, seperti dokumen, artefak, maupun kesaksian, yang belum tentu lengkap atau sepenuhnya akurat.
Sudut pandang penulis atau penutur. Setiap sejarawan atau penutur kisah punya latar belakang, perspektif, dan kepentingan yang berbeda-beda, yang secara sadar maupun tidak sadar bisa memengaruhi cara mereka menyusun dan menyampaikan sebuah peristiwa sejarah.
Proses seleksi fakta. Nggak semua detail dari sebuah peristiwa sejarah bisa dimasukkan ke dalam sebuah kisah, sehingga penulis harus melakukan seleksi terhadap fakta-fakta mana yang dianggap penting untuk disampaikan, dan mana yang mungkin dianggap kurang relevan.
Pengaruh konteks zaman. Cara sebuah peristiwa sejarah diceritakan juga bisa dipengaruhi oleh konteks zaman ketika kisah tersebut disusun, termasuk nilai-nilai sosial, politik, maupun budaya yang berlaku pada masa penulisan kisah tersebut.
Ciri-Ciri Sejarah Sebagai Kisah
Untuk memahami konsep ini secara lebih mendalam, ada beberapa ciri utama yang membedakan sejarah sebagai kisah dari makna sejarah lainnya:
Berupa narasi atau cerita. Sejarah sebagai kisah selalu berbentuk narasi yang disusun secara berurutan, baik dalam bentuk tulisan seperti buku dan artikel, maupun lisan seperti dongeng dan cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun.
Hasil rekonstruksi, bukan peristiwa asli. Kisah sejarah bukan peristiwa itu sendiri, melainkan hasil penyusunan ulang berdasarkan sumber-sumber yang tersedia, sehingga selalu ada jarak antara kisah yang diceritakan dengan peristiwa aslinya.
Dipengaruhi subjektivitas penulis. Seperti dijelaskan sebelumnya, kisah sejarah tidak pernah sepenuhnya bebas dari pengaruh subjektivitas orang yang menyusunnya.
Bisa disampaikan dalam berbagai bentuk. Sejarah sebagai kisah bisa hadir dalam berbagai format, mulai dari buku teks sejarah, biografi, novel sejarah, sampai cerita rakyat dan legenda yang diturunkan secara lisan antar generasi.
Perbedaan Sejarah Sebagai Peristiwa dan Sejarah Sebagai Kisah
Supaya lebih jelas, penting untuk membedakan dua konsep ini secara langsung. Sejarah sebagai peristiwa adalah kejadian yang benar-benar terjadi di masa lampau, bersifat objektif, faktual, dan hanya terjadi sekali, tidak bisa diulang kembali persis seperti aslinya. Sementara sejarah sebagai kisah adalah hasil narasi atau cerita tentang peristiwa tersebut, yang disusun kembali oleh sejarawan atau penutur cerita, sehingga sifatnya subjektif dan bisa memiliki berbagai versi penceritaan tergantung siapa yang menyampaikannya.
Sebagai contoh sederhana, peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 merupakan sejarah sebagai peristiwa, karena benar-benar terjadi apa adanya pada waktu dan tempat tersebut. Namun, ketika peristiwa itu diceritakan kembali lewat buku pelajaran, film dokumenter, atau cerita dari kakek-nenek kepada cucunya, maka itu sudah masuk kategori sejarah sebagai kisah, yang bisa memiliki penekanan detail dan sudut pandang berbeda-beda tergantung sumber penceritaannya.
Pentingnya Memahami Sejarah Sebagai Kisah dalam Kajian Sejarah
Memahami konsep sejarah sebagai kisah penting banget, terutama untuk melatih kemampuan berpikir kritis saat mempelajari sejarah. Dengan menyadari bahwa setiap kisah sejarah yang kita baca atau dengar merupakan hasil interpretasi, bukan peristiwa asli itu sendiri, kita jadi lebih terlatih untuk membandingkan berbagai sumber, mempertanyakan sudut pandang penulis, serta tidak langsung menerima satu versi cerita sebagai kebenaran mutlak tanpa mempertimbangkan konteks dan sumber lainnya.
Pemahaman ini juga membantu menjelaskan kenapa kadang kita menemukan perbedaan detail cerita sejarah dari berbagai sumber, buku, atau bahkan negara yang berbeda, mengingat setiap pihak punya sudut pandang dan kepentingan masing-masing dalam menyusun kisah sejarah tersebut.
Hubungan Sejarah Sebagai Kisah dengan Historiografi
Konsep sejarah sebagai kisah juga berkaitan erat dengan historiografi, yaitu proses penulisan sejarah itu sendiri. Setiap karya historiografi, baik itu buku teks sejarah akademis, biografi tokoh, maupun catatan sejarah lokal, pada dasarnya merupakan wujud nyata dari sejarah sebagai kisah, karena semuanya merupakan hasil rekonstruksi dan interpretasi penulis terhadap peristiwa masa lalu berdasarkan sumber-sumber yang tersedia pada masanya.
Kesimpulan
Pengertian sejarah sebagai kisah merujuk pada narasi hasil rekonstruksi peristiwa masa lalu yang disusun dan disampaikan kembali oleh sejarawan atau penutur cerita, bersifat subjektif karena dipengaruhi keterbatasan sumber, sudut pandang penulis, proses seleksi fakta, sampai konteks zaman penulisannya. Konsep ini berbeda dengan sejarah sebagai peristiwa yang bersifat objektif dan hanya terjadi satu kali di masa lampau.
Memahami perbedaan ini penting banget buat siapa pun yang mempelajari sejarah, karena membantu kita bersikap lebih kritis dan terbuka terhadap berbagai sudut pandang, alih-alih menerima satu versi cerita sejarah begitu saja tanpa mempertimbangkan konteks dan sumber yang melatarbelakanginya.













