Kalau kamu cari “wisata Pantai Muara Gembong” di internet, yang muncul kebanyakan artikel tentang ekowisata mangrove, jembatan bambu yang instagramable, dan kuliner seafood segar. Tapi ada satu sisi Muara Gembong yang jarang diangkat di artikel-artikel wisata pada umumnya: kawasan ini sebenarnya salah satu titik pesisir paling parah terdampak abrasi di Pulau Jawa, dan sejumlah desa di dalamnya sudah benar-benar tenggelam.
Artikel ini nggak akan membahas rekomendasi spot foto atau harga tiket masuk, melainkan mengangkat sisi lain dari Muara Gembong yang justru menjelaskan kenapa kawasan ini punya wajah ganda: di satu sisi dipromosikan sebagai ekowisata mangrove, di sisi lain jadi contoh nyata krisis lingkungan pesisir yang jarang mendapat sorotan luas.
Dari “Kampung Dolar” ke Kampung yang Tenggelam
Muara Gembong dulunya punya masa kejayaan yang cukup fantastis. Sekitar era 1980-an hingga 2005, kawasan ini bahkan dijuluki “Kampung Dolar” karena hasil tambak udang dan kepiting yang melimpah, konon mampu menghasilkan pendapatan puluhan juta rupiah per bulan untuk satu kepala keluarga. Euforia ini mendorong warga berlomba-lomba membuka lahan mangrove dan mengubahnya jadi tambak, sampai sekitar 93,5 persen tutupan hutan mangrove alami di kawasan ini berubah fungsi.
Masalahnya, mangrove bukan cuma soal pemandangan hijau di tepi pantai, tapi juga benteng alami yang melindungi daratan dari hantaman ombak dan abrasi. Begitu benteng alami ini hilang secara masif, dampaknya datang bertubi-tubi: air laut mulai menggerus daratan, tambak-tambak yang dulu jadi sumber kemakmuran justru ikut tenggelam, dan warga kehilangan mata pencarian utama mereka.
Tiga Desa yang Paling Parah Terdampak
Dari enam desa yang ada di Kecamatan Muara Gembong, tiga di antaranya, yaitu Desa Pantai Bahagia, Pantai Mekar, dan Pantai Sederhana, tercatat sebagai wilayah yang paling parah terdampak abrasi dan banjir rob. Di beberapa titik seperti Kampung Muarajaya dan Kampung Beting, sudah ada RT yang benar-benar hilang tersapu abrasi, rumah-rumah warga tenggelam, dan jalan utama yang dulu bisa dilalui kendaraan kini sudah berada di bawah permukaan air.
Berdasarkan kajian yang pernah dilakukan, luas abrasi di kawasan Pantai Muara Gembong tercatat mencapai ratusan ribu meter persegi. Warga yang masih bertahan pun terpaksa beradaptasi dengan cara yang cukup ekstrem: membangun lantai panggung tambahan dari bambu dan kayu di dalam rumah supaya perabotan tidak terendam, sampai membuat jembatan kayu swadaya sebagai pengganti akses jalan yang sudah tenggelam.
Hidup Berdamai dengan Air Pasang
Salah satu gambaran paling nyata dari krisis ini adalah rutinitas warga yang harus menyesuaikan diri dengan jam pasang air laut. Setiap sekitar pukul enam sore, air mulai naik dan merendam fasilitas mandi cuci kakus (MCK) warga, sehingga aktivitas sanitasi harian praktis terhenti begitu air pasang datang. Saat purnama tiba, kecemasan warga meningkat drastis, karena air pasang biasanya jauh lebih tinggi dan berisiko masuk langsung ke dalam rumah.
Sebagian warga yang masih memiliki kemampuan ekonomi memilih pindah dan mencari penghidupan baru di tempat lain. Namun banyak juga yang bertahan, terutama mereka yang bukan pemilik tambak dan tidak punya cukup biaya maupun tujuan lain untuk direlokasi.
Perempuan di Garis Depan Bertahan Hidup
Di tengah situasi yang serba sulit ini, ada cerita menarik tentang bagaimana perempuan-perempuan Muara Gembong mengambil peran penting sebagai penopang ekonomi keluarga, setelah suami mereka kehilangan mata pencarian dari tambak yang sudah tenggelam. Sebagian dari mereka memanfaatkan tanaman wlingi laut yang tumbuh liar di kawasan tersebut, dianyam jadi berbagai produk seperti matras atau karpet untuk dijual sebagai sumber pendapatan alternatif. Ada juga yang mengolah buah pidada, salah satu jenis buah dari pohon mangrove, menjadi kudapan seperti dodol, sirup, hingga keripik.
Upaya-upaya kecil semacam ini menunjukkan bagaimana masyarakat pesisir berusaha bertahan hidup di tengah krisis lingkungan yang sebenarnya berskala cukup besar, meski belum tentu diiringi dukungan program pemberdayaan yang berkelanjutan dari pihak terkait.
Kenapa Penanganannya Terkesan Jalan di Tempat?
Salah satu ironi dari krisis abrasi di Muara Gembong adalah persoalan kewenangan yang tumpang tindih antar lembaga. Dinas terkait di tingkat kabupaten pernah menyatakan tidak memiliki kewenangan penuh soal urusan kelautan sesuai aturan pembagian kewenangan pemerintah daerah, sehingga tidak ada alokasi anggaran khusus untuk penanganan abrasi di kawasan ini, maupun pendataan resmi soal berapa banyak rumah warga yang sudah hilang akibat abrasi.
Kondisi ini membuat penanganan krisis di Muara Gembong terkesan berjalan lambat, sementara di sisi lain upaya-upaya kecil seperti penanaman kembali bibit mangrove oleh komunitas dan warga lokal terus dilakukan sebagai bentuk harapan, meski dampaknya butuh waktu bertahun-tahun untuk benar-benar terasa signifikan.
Ironi di Balik Status Ekowisata
Menariknya, kawasan yang sama juga dipromosikan sebagai destinasi ekowisata mangrove sejak 2018, dengan jembatan bambu dan spot foto yang ramai dikunjungi wisatawan, termasuk rombongan pelajar yang datang untuk belajar soal pelestarian lingkungan.
Program ekowisata dan penanaman mangrove ini sebenarnya juga menjadi bagian dari upaya pemulihan ekosistem yang rusak, sekaligus alternatif sumber pendapatan warga di luar sektor tambak yang sudah porak-poranda.
Tapi kalau dilihat lebih dekat, ironi ini cukup terasa: di satu sisi kawasan ini “dijual” sebagai tempat healing dengan suasana alami yang menenangkan, sementara di sisi lain, tak jauh dari titik ekowisata tersebut, ada warga yang setiap hari harus berjuang melawan air pasang yang perlahan menenggelamkan rumah mereka.
Pelajaran yang Bisa Diambil
Kisah Muara Gembong sebenarnya jadi studi kasus penting soal apa yang terjadi ketika ekosistem mangrove dieksploitasi secara masif tanpa mempertimbangkan fungsi ekologisnya sebagai pelindung garis pantai. Butuh waktu puluhan tahun untuk kawasan ini berubah dari masa kejayaan tambak jadi kawasan yang sebagian wilayahnya benar-benar hilang ditelan laut, dan pemulihannya kemungkinan akan butuh waktu yang jauh lebih lama lagi.
Buat kamu yang berencana berkunjung ke Muara Gembong, baik untuk menikmati ekowisata mangrove maupun sekadar penasaran, ada baiknya juga memahami konteks yang lebih luas ini. Bukan buat menghindari kunjungan, tapi justru untuk lebih menghargai upaya pelestarian mangrove yang sedang dilakukan, sekaligus memahami bahwa di balik keindahan alam yang ditawarkan, ada perjuangan nyata masyarakat pesisir yang masih terus berlangsung sampai hari ini.
Kesimpulan
Pantai Muara Gembong menyimpan dua wajah yang saling bertolak belakang: sebagai destinasi ekowisata mangrove yang menenangkan, sekaligus sebagai salah satu contoh nyata krisis abrasi pesisir yang sudah menenggelamkan sejumlah desa di Bekasi. Memahami sisi ini penting, bukan untuk menakut-nakuti calon wisatawan, tapi untuk memberikan gambaran yang lebih utuh soal apa yang sebenarnya terjadi di kawasan ini, jauh dari sekadar rekomendasi spot foto dan kuliner seafood yang biasa dibahas artikel-artikel wisata pada umumnya.













